, ,

Data Resmi Ungkap Lonjakan dan Penurunan Peserta KB di Kota Bitung

oleh -646 Dilihat

Bitung – Data Resmi Ungkap Lonjakan dan Penurunan Pesertai KB Kota Bitung. Keluarga Berencana (KB) masih menjadi salah satu program penting dalam pengendalian pertumbuhan penduduk dan peningkatan kualitas hidup keluarga di Kota Bitung. Data resmi dari Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana menunjukkan gambaran menarik sekaligus penuh tantangan. Dalam lima tahun terakhir, tren akseptor baru dan peserta aktif program KB memperlihatkan fluktuasi yang cukup drastis, memunculkan pertanyaan besar tentang arah dan efektivitas program ini di masaPada tahun 2020, tercatat 3.277 akseptor baru yang bergabung dalam program KB di seluruh kecamatan. Angka ini bahkan melonjak pada 2021 menjadi 3.855 orang, menjadikan tahun itu sebagai puncak partisipasi masyarakat. Namun, tren itu tidak bertahan lama. Tahun 2022 jumlah akseptor baru anjlok drastis menjadi hanya 326 orang, meski sempat naik menjadi 466 orang pada 2023 dan kembali meningkat ke 938 orang di 2024.

Jika melihat distribusi per kecamatan, Girian mendominasi dengan 388 akseptor baru, disusul Matuari 182 orang, Ranowulu 131 orang, dan Maesa 94 orang. Sebaliknya, Lembeh Utara menjadi wilayah dengan akseptor baru paling sedikit hanya 8 orang. Sementara jumlah petugas KB relatif stabil, dari 11 orang pada 2020–2021 menjadi 10 orang pada 2022–2024, menunjukkan bahwa fluktuasi peserta bukan semata-mata karena tenaga pendamping yang berkurang.

Tidak hanya akseptor baru, jumlah peserta KB aktif juga mengalami perubahan signifikan. Tahun 2021 tercatat sebagai tahun emas, dengan 6.937 pengguna pil, 3.961 pengguna IUD, 1.388 pemakai kondom, 787 menjalani metode operasi wanita (MOW), dan 56 menggunakan metode operasi pria (MOP). Namun, angka itu merosot tajam pada tahun-tahun berikutnya. Tahun 2022 jumlah pengguna pil turun menjadi 1.895, IUD hanya 696, kondom 43, MOW 436, dan MOP 33. Penurunan berlanjut di 2023 dan 2024 dengan angka pil hanya 1.433 orang, IUD 849, kondom 37, MOW 506, serta MOP 34.
Dilihat per kecamatan, Matuari dan Girian menjadi wilayah dengan angka tertinggi, khususnya pada metode pil dan IUD. Matuari mencatat 299 pengguna pil dan 213 IUD, sementara Girian menorehkan 267 pil dan 145 IUD. Di sisi lain, Ranowulu menonjol pada penggunaan IUD dengan 113 peserta meskipun pengguna pilnya hanya 57 orang. Lembeh Utara dan Lembeh Selatan berada di posisi terbawah dengan jumlah peserta aktif relatif kecil di semua metode kontrasepsi.

Baca Juga : Gempa M 4,4 Terjadi di Bitung Sulut

Data Resmi
Data Resmi

Fenomena ini menunjukkan adanya pergeseran besar dalam perilaku masyarakat terhadap program KB. Lonjakan akseptor baru pada awal periode tidak diikuti oleh keberlanjutan partisipasi aktif di tahun-tahun berikutnya. Meski metode pil dan IUD masih mendominasi, keduanya menunjukkan penurunan tajam, sementara metode operasi wanita (MOW) terlihat relatif stabil dengan angka di atas 400 peserta sejak 2022 hingga 2024.Pertanyaannya, apa yang menyebabkan penurunan ini? Apakah karena keterbatasan distribusi alat kontrasepsi, kurangnya penyuluhan yang berkesinambungan, atau perubahan preferensi masyarakat terhadap pola berkeluarga? Fakta bahwa jumlah petugas KB tidak berubah banyak, tetapi partisipasi masyarakat merosot, menjadi sinyal bahwa tantangan terletak pada kesadaran, edukasi, serta kemudahan akses layanan.

Program KB di Bitung kini berada di persimpangan. Data yang ada tidak hanya berbicara tentang angka, melainkan juga tentang keberlanjutan kebijakan. Ke depan, dibutuhkan strategi baru agar antusiasme masyarakat tidak hanya sebatas mendaftar sebagai akseptor baru, tetapi juga bertahan aktif dalam penggunaan kontrasepsi yang sesuai dan aman.

Indosat

No More Posts Available.

No more pages to load.