, ,

Potensi Besar Tapi Belum Optimal, Begini Kondisi Biofarmaka Bitung Saat Ini

oleh -662 Dilihat

Bitung – Potensi Besar Tapi Belum Optimal, Begini Kondisi Biofarmaka Bitung Saat Ini. Kota Bitung menunjukkan potret menarik dalam perjalanan sektor tanaman biofarmaka selama empat tahun terakhir.

Data terbaru Badan Pusat Statistik melalui publikasi Kota Bitung Dalam Angka 2025 memperlihatkan fluktuasi yang cukup tajam pada luas panen dan produksi berbagai jenis tanaman obat antara tahun 2021 hingga 2024.Dari seluruh tanaman yang tercatat, jahe menjadi komoditas unggulan yang paling dominan baik dari sisi luas panen maupun volume produksi.

Pada 2021, luas panen jahe mencapai 38.907 meter persegi dengan hasil produksi sebesar 56.271 kilogram. Setahun kemudian, 2022 menjadi puncak kejayaan jahe di Bitung ketika luas panennya melonjak hingga 115.057 meter persegi dan produksinya menembus 295.943 kilogram.Namun, peningkatan besar itu tidak berlangsung lama.

Pada 2023 luas panen jahe menurun menjadi 29.960 meter persegi dengan produksi 108.677 kilogram, lalu kembali turun di 2024 menjadi hanya 14.182 meter persegi dan produksi 38.640 kilogram. Tren ini menunjukkan adanya perubahan pola tanam dan kemungkinan penurunan intensitas budidaya akibat faktor iklim, harga jual, atau rotasi tanaman petani.

Selain jahe, kunyit menempati posisi kedua dengan performa yang juga berfluktuasi. Luas panen kunyit naik dari 4.805 meter persegi pada 2021 menjadi 38.920 meter persegi di 2022, dengan hasil produksi mencapai 193.503 kilogram. Namun, pada 2023 dan 2024 angkanya kembali menurun, baik dari luas panen maupun produksi, masing-masing menjadi 10.665 meter persegi dan 7.174 meter persegi dengan hasil 80.552 kilogram dan 8.269 kilogram.

Tanaman lain seperti laos dan kencur mulai menunjukkan geliat walau dalam skala kecil. Laos yang pada 2021 hanya menghasilkan 1.907 kilogram sempat meningkat menjadi 4.680 kilogram di 2022, lalu turun menjadi 95 kilogram di 2024. Kencur mulai muncul dalam catatan statistik pada 2022 dengan luas panen 200 meter persegi dan hasil 328 kilogram, kemudian naik perlahan hingga 76 meter persegi dengan produksi 177 kilogram di 2024

.Sementara itu, lidah buaya juga mencatat kontribusi kecil. Produksinya tercatat 590 kilogram di 2022 dan turun menjadi 120 kilogram di 2024, dengan luas panen yang semakin menyempit. Tanaman temulawak yang dikenal berkhasiat tinggi untuk kesehatan hati pun memperlihatkan tren serupa, dari 86 meter persegi dengan hasil 204 kilogram di 2021, kini hanya tersisa 10 meter persegi dan produksi 49 kilogram pada 2024.

Sejumlah tanaman lain seperti kapulaga, keji beling, mahkota dewa, mengkudu, sambiloto, temuireng, dan temukunci belum menunjukkan aktivitas panen maupun produksi selama empat tahun terakhir. Hal ini menandakan bahwa potensi tanaman biofarmaka di Bitung masih terpusat pada komoditas tertentu saja, terutama yang memiliki nilai ekonomi tinggi seperti jahe dan kunyit.

Baca Juga : Pemkot Bitung Perluas Akses Layanan Publik, Siagakan Dua Unit Pemadam Kebakaran Motor di Pulau Lembeh

Potensi Besar Tapi Belum Optimal
Potensi Besar Tapi Belum Optimal

Jika menilik data secara keseluruhan, tren penurunan baik pada luas panen maupun produksi sejak 2023 perlu menjadi perhatian serius. Fluktuasi yang terjadi bukan sekadar angka statistik, tetapi sinyal bahwa sektor tanaman obat di Bitung membutuhkan arah baru agar bisa kembali tumbuh.

Langkah strategis seperti peningkatan pembinaan petani, penguatan riset agrikultur herbal, serta dukungan pasar dan industri olahan menjadi kunci penting untuk menghidupkan kembali sektor biofarmaka lokal.

Dengan kekayaan alam tropis yang dimiliki, Bitung memiliki potensi besar untuk menjadi sentra tanaman obat di Sulawesi Utara bahkan di kawasan Indonesia Timur.Kini tantangannya ada pada bagaimana pemerintah daerah, petani, dan pelaku usaha bisa berkolaborasi untuk mengubah data yang fluktuatif ini menjadi kisah sukses pertanian hijau yang berkelanjutan.

Indosat

No More Posts Available.

No more pages to load.